Islam dan Demokrasi Bertemu dalam Pancasila

Muara pertemuan antara islam dan Demokrasi terdapat dalam Pancasila, yang  merupakan mitsaqan ghaliza (perjanjian agung) bagi bangsa Indonesia. Padahal, sebagian negara-negara di dunia masih belum menemukan kesepakatan bersama sehingga terjadi konflik atau perang saudara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. selaku anggota MPR RI pada Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Kompleks H, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada Kamis (11/03) malam.

“Alhamdulillah kita punya Pancasila yang mana bisa mensinergikan sehingga kita bisa berbangsa dan bernegara dengan aman tentram, ini yang patut kita syukuri karena di saat yang sama, banyak yang gagal meramu antara Islam dan Demokrasi,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut menegaskan bahwa meskipun Indonesia bukan negara Islam, namun negara telah mengakomodir kebutuhan umat Islam. Hal ini dibuktikan dengan adanya UU Zakat, Nikah hingga Pesantren.

“Ini sesuatu yang patut disyukuri sebagai sebuah bangsa, meski legislatornya tidak hanya Islam. Pancasila menjadi titik temu itu sehingga patut kita syukuri karena patut menghasilkan tatanan yang sedemikian rupa,” kata Anggota Komite III DPD DRI tersebut.

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasantri dari Ma’had Aly Pesantren Al Munawwir, Komplek H, dan Komplek Hindun-Beta Pesantren Krapyak Yogyakarta. Sebagai pembicara, hadir Guru Besar Ulumul Quran UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag dan Kepala Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga sekaligus Ma’had Aly Krapyak Yogyakarta Dr. Moh. Tamtowi, M.A.

Prof Mustaqim menyatakan bahwa Pancasila memang bukan agama, namun Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun, termasuk di dalamnya agama Islam. Ia kemudian membuktikan bahwa dalam Pancasila terdapat ajaran-ajaran Islam.

“Jika dibedah, Sila Pertama menunjukkan substansi tauhid. Belum lagi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan yang kesemuanya adalah nilai-nilai agama Islam. Yang terakhir adalah nilai wasathiyah, menjadi suatu yang paradok Ketika seorang semakin mengenal Islam namun justru semakin tidak cocok dengan negara,” ajarnya.

Sementara itu, Dr. Tamtowi menyatakan bahwa bagi santri, Pancasila sudah tidak perlu diperbincangkan, apalagi diperdebatkan. Pasalnya, dalam kehidupan sehari-hari santri sudah mencerminkan nilai-nilai Pancasila. 

“Persoalan negara dengan berbagai pilar yang mendukungnya, bagi kalangan pesantren bukanlah perkara yang aneh. Sudah sejak lama NU memiliki prinsip dalam bela negara. Mbah Hasyim dahulu pernah mengeluarkan fatwa berjuang untuk membela negara akan mati syahid,” katanya.

Selanjutnya, ia menegaskan bahwa NU menjadi organisasi Islam yang pertama menerima asas tersebut. Pancasila adalah sumber daya ideologi yang dimiliki Indonesia, dan tidak semua negara memilikinya. Standar manusia Pancasila sangat dekat dengan santri, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, bergotong royong, dan Kreatif. 

Pada sesi diskusi, peserta merespon baik materi yang disampaikan oleh para pembicara sehingga berjalan dinamis hingga akhir acara.

Label: