Sejarah Pendirian Lesbumi III

3. Asrul Sani

Asrul Sani lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 adalah seorang sastrawan dan sutradara film ternama asal Indonesia. Asrul Sani merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, merupakan kepala adat Minangkabau di daerahnya. Ibunya Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing. Abangnya Chairil Basri menjadi Perwira tinggi TNI, dan kakak perempuan Nurhasanah.[1]

Asrul Sani memulai pendidikan formalnya di HIS Holland Inlandsche School di Bukit Tinggi dan dia juga belajar ilmu agama pada sore harinya di Dar El Asr. Pada usia 12 tahun ia berangkat ke Jakarta bersama Ibunya dan melanjutkan ke sekolah menengah tehnik KWS Koningin Wilhelmina Schol, Jakarta. Pada waktu Jepang masuk di Indonesia pada tahun 1941 ibunya menginginkan Asrul menemani untuk kembali ke Rao. Sampai akhirnya kembali lagi ke Jakarta pada usia 16 tahun.[2] Asrul kemudian bersekolah di Taman Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta. Disinilah Asrul satu sekolah bahkan satu kelas dengan Pramodeya Ananta Toer disini bakat sastra Asrul berkembang. Setelah tamat, ia melanjutkan ke Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor hingga selesai pada tahun 1955.[3]

Tetapi perjalanan Asrul dalam bidang kesenianya. Adalah kegemaranya dalam membaca, kehadiranya sebagai siwa di Akademisi Seni Drama (Academie voor de Dramatische Kunts), Amsterdam tahun 1952-1954, melalui beasiswa Sticusa, Stichting voor Cultureel Samenwerking, dan University of Southern California (USC), Departement of Theatre-Departemen of Cinema, Los Angeles, tahun 1956-1957, merupakan bagian dari pematangan Asru sebagai dramawan dan “bapak skenario” terkemuka di Indonesia.[4]

Ia pertama kali mengumumkan sajak-sajak dan karya-karyanya yang lain alam majalah Gema Suasana dan Mimbar Indonesia. Tahun 1948 ia ikut bersama Chairil menjadi redaktur majalah Gema Suasana (kemudian menjadi Gema Saja) dan kemudian bersama-sama Chairil juga Rivai Apin, Rosihan Anwar dan lain-lainya menjadi redaktur ruangan kebudayaan Gelanggang dalam warta sepekan Siasat. Tahun 1966 ia menerbitkan dan memimpin majalah bulanan kebudayaan yang diberinya nama Gelanggang juga. Majalah ini hanya terbit beberapa nomor saja.[5]

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama “Chairil Anwar” dan “Rivai Apin”[6]menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir.[7] Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai manifestasi sikap budaya    mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka. Kepiawian Asrul di bidang sastra diakui oleh Pramodeya Ananta Toer.[8]

Meski sejak awal Djamaludin Malik memimpin dan menjabat Ketua Umum Lesbumi, tidak diragukan lagi bahwa pemberi bentuk dan konseptor Lesbumi adalah Asrul Sani (1927-2004) berusia paling muda diantara kedua rekanya, disamping Usmar Ismail  (1921-1971), Djamaludin Malik (1917-1970). Dalam kepengurusan pucuk pimpinan Lesbumi, Asrul menjabat Wakil Ketua II. Keaktifanya di Lesbumi mengantarkan Asrul menjadi anggota DPR-GR/MPRS tahun 1966 sebagai wakil seniman Lesbumi. Asrul adalah konseptor utama Lesbumi. Ia sering memberi masukan-masukan dan semangat-semangat mengenai kebudayaan dalam Islam.

Pada saat pengarapan film yang berjudul Panggilan Tanah Suci bersam dengan Usmar Ismail dan Djamaludin Malik. Film dakwah yang menceritakan problem kejiwaan dari bebrapa orang terpelajar dalam menunaikan ibadah  haji ke tanah  suci,  Makkah.  Yang penggarapanya diserahkan sepenuhnya keapda Lesbumi.[9] Di situ Usmar menceritakan bahwa pada saat penggarapan ini di Indonesia telah terjadi satu gerakan yang dipelopori oleh Lekra untuk melakukan penyingkiran terhadap orang-orang film seperti Usmar Ismail, Djamauludin Malik, Suryo Sumanto, Asrul Sani, dan lain-lain dalam kepanitiaan FFAA, Festival Film Asia Afrika, yang diselenggarakan di Jakarta.[10] Alasan penyingkiran itu adalah soal film, bukanlah soal orang film semata-mata, melainkan soal rakyat. Karena peristiwa ini, Usmar dan Djamaludin sengaja keluar negeri untuk menggarap film haji.

Ketika Asrul melakukan perjalanan Haji, pada saat itu Asrul mengunjungi masjid Cordoba, Alhambra dan Granada yang terkenal dengan keindahan arsiteknya dari situlah Asrul memamhami Islam, tidak hanya agama yang hafalan-hafalan saja melainkan Islam mempunyai wajah-wajah indah melalui seni dan kebudayaanya. Bersama Usmar Ismail  dan  Djamludin malik ingin menghadirkan Lesbumi di tengah-tengah organisasi kebudayaan Islam berbeda warna, beda suara.

Asrul begitu meresapi bentuk-bentuk kebudayaan yang dilahirkan dengan Islam sebagai sumbernya meski yang ia saksikan sumber berbentuk arsitektur. Asrul sebenernya telah dijuluki teman-temanya “Atheis” tetapi Asrul dalam tulisan Titian Serambut Dibelah Tujuh Ingin mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya menjadi rumus-rumus mati,   tetapi   untuk   diamalkan.   M.S   Hutagalung   dalam   karyanya, Tanggapan Dunia Asrulk Sani : Tinjauan atas Sajak pendek dan cerita pendek, menilai bahwa Asrul karena pengaruh filsafat eksitensialis dekat dengan kaum eksistensialis yang bertuhan.[11]

Pada saat mendirikan Lesbumi, kegiatan Asrul sebenarnya sudah tidak lagi dibidang satra, tetapi di bidang teater dan film. Terbukti pada Musyawarah Besar I Lesbumi tahun 1962 di bandung, Asrul lebih asyik menyoroti masalah teater dan fil ketimbang sastra bidang yang belakangan mulai digelutinya secara intensif, Namun sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz dimasukkan oleh Teeuw ke   dalam Moderne Indonesische Verhalen  dan dramanya Mahkamah mendapat pujian dari para kritikus.[12]

Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 1950-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda). Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke  dunia film. Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre dan Burung Camar karya Anton P, dua dari banyak karya yang lain. Skenario yang di tulisnya untuk Lewat Jam Malam mendapat penghargaan dari FFI tahun, 1955.[13]

Pada tahun-tahun terahir kehidupanya, Asrul masih  sempat menulis “pidato kebudayaan”, yang rencananya akan dibacakan pada saat ia menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia, gelar yang diusahakan oleh kawan-kawannya, tetapi tidak sempat terwujud hingga Asrul meninggal dunia. Asrul meninggal dunia pada 11 Januari 2004, dalm usia 76 tahun.[14] Jenazahnya dimakamnkan di Graha Bakti Budaya II, Taman Ismail Marzuki, jakarta,  berdampingan  dengan kakanya, Chairul Basri yang meninggal 10 menit lebih awal. Dalam perjalanan karirnya, Asrul Sani pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000 dari pemerintah Republik Indonesia.[15]

 

 

SUSUNAN PENGURUS PP. LESBUMI

 

Ketua umum                 : H. Djamaludin Malik

Wakil Ketua I               : Usmar Ismail

Wakil Ketua II              : Drs. Asrul Sani

Sek. Djendral                : Anas B.S

Sekretaris I                    : Hasbullah Chalid

Bendahara Umum         : H. Mohd. Madehan

Wakil Bendahara          : H. A Latief

ANGGOTA-ANGGOTA :

  1. Tubagus Mansur Makmum
  2. Mahbub Djunaedi
  3. Husny
  4. Abd. Sjukur Tajib
  5. Ishari (Djawa Timur)
  6. Nadjaruddin Naib
  7. Husein Alaydrus
  8. Musa Machfudz
  9. Muhtar Byna

PEMBANTU-PEMBANTU :

  1. H.M. Wahib Wahab
  2. A. Sjaichu

PENASEHAT AKTIF :

  1. H.M Idham Chalid
  2. Zainul Arifin
  3. H Saefuddin Zuhri
  4. H Fattah Jasin

CHUSUS PENTJAK SILAT :

  1. H.M Tamblih
  2. Djum Maksum

PELINDUNG :

K.H Abd Wahab Hasbullah

[1] Ajib Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Bandung : Binacipta IKAPI, 1986, hlm. 91-92.

[2] Choirotun Chisan, Lesbumi Strategi. Hlm. 184-185.

[3] Ibid. 185.

[4] Ibid. 185.

[5] Ajib Rosidi, Ikhtisar Sejarah, hlm. 91.

[6] Rivai Apin lahir di Padang Panjang tanggal 30 Maret 1927. Sejak masih duduk di sekolah menegah ia telah mengumumkan sajak-sajaknya dalam majalah terkemuka. Pada tahun 1954 ia melakukan tindakan yang mengejutkan kawan-kawanya : ia keluar dari redaksi Gelanggang dan beberapa waktu kemuadian ia masuk ke lingkungan Lekra dan memimpin majalah kebudayaan baru yang menjadi anggota PKI. Setelah terjadi G-30 S PKI Rivai termasuk tokoh Lekra yang karya- karyanya dilarang. Ajib Rosidi, Ikhtisar Sejarah, hlm 96.

[7]Dijelaskan bahwa Asrul-Chairil-Rivai, dianggap sebagai trio pembaharu puisi Indonesia, pelopor Angkatan 45. Ketiga penyair itu menerbitkan kumpulan sajak bersama, Tiga Menguak Takdir (1950). Judul itu sebagian orang ditafsirkan sebagai usaha ketiga penyair itu dalam menghadapi (“menguakkan”) Sutan Takdir Alisjahbana, sebab perkataan “Takdir” disitu dihubungkan dengan perjuangan ketiga orang itu menghadapi Pujangga Baru yang dalam hal ini dilambangkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Tetapi oleh sebagian penafsir lain, perkataan “takdir” dalam judul itu diartikan sebagai nasib, kadar, suratan tangan. Maka judul itu ditafsirkan mereka sebagai usaha ketiga penyair tersebut dalam mencoba membuka, memahami, mengerti takdir manusia. Ajib Rosidi, Ikhtisar Sejarah….hlm.91-92.

[8] Pramodeya Ananta Toer, Mereka Yang Dilumpuhkan, (Yoyakarta : Hasta Mitra, 2002), hlm 24-25.

[9] Chorotun Chisan, Lesbumi Strategi. Hlm. 189.

[10] Ibid.

[11] Ajib Rosidi, Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia, (Djakarta : Pustaka Jaya, 1970), 84.

[12] Choirotun Chisan, Lesbumi Strategi, hlm. 190.

[13] Ibid, 191.

[14] Ibid, 199.

[15] Ibid, 200.

 

Tulisan ini diambil dari sini

Label: