Pondok Pesantren Salafiyah Al Qodir

Pondok Pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan informal namun memiliki peran strategis dan signifikan. Tokoh-tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan di Indonesia, sebagian besar adalah kiai/ulama atau setidaknya pernah menjadi santri. Pada masa berikutnya, lulusan-lulusan pesantren juga banyak mengisi posisi-posisi strategis di negeri ini.

Begitu pula dengan Pondok Pesantren Al Qodir yang berada di Dusun Tanjung Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pesantren Al Qodir yang didirikan oleh KH Masrur Ahmad MZ ini, tidak lain adalah untuk ikut menyebarluaskan ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin.

Pendirian Pesantren Al Qodir dirintis sejak tahun 1980an. Namun pembangunan gedung-gedungnya yang menjadi asrama para santri, masjid dan fasilitas-fasilitas lain, mulai diupayakan dari tahun 1990 berbarengan dengan mulai datangnya sejumlah santri ke Al Qodir.

Meski sudah menerima santri sejak tahun 1990 dan proses belajar mengajar berjalan, namun secara resmi Pondok Pesantren Al Qodir berdiri pada tahun 1998 dengan status Yayasan yang dikukuhkan dengan akta notaris dan tercatat resmi di Departemen Agama RI.

Pondok Pesantren Al Qodir memposisikan diri sebagai Pondok Pesantren Salafiyah yaitu pesantren tradisional yang tetap mempertahankan serta mengajarkan kitab-kitab klasik atau kitab kuning sebagai inti pendidikan di pesantren.

PERKEMBANGAN

Pada masa awal berdiri, fasilitas yang dimiliki masih sangat terbatas. Masjid, asrama, dan fasilitas lain seperti kamar mandi santri dan sebagainya masih kecil dan sedikit. Aktivitas pesantren juga lebih banyak dilakukan di luar kawasan pondok sebab pada masa-masa awal berdiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Qodir lebih sering melakukan pengajian keliling keluar masuk kampung untuk melakukan syiar agama.

Ketika sedikit demi sedikit santri mulai datang, aktivitas dakwah keliling tidak lantas berhenti. Bahkan sebaliknya, jika semula hanya menggelar pengajian keliling maka dengan bertambahnya santri, Ponpes Al Qodir juga menggelar mujahadah keliling.

Kegiatan Mujahadah keliling itu dilaksanakan setiap Sabtu Pon sehingga sempat dikenal dengan kegiatan Sabtu Ponan. Sebelum acara mujahadah Sabtu Pon digelar, Pengasuh dan santri Al Qodir melakukan bakti sosial bersama masyarakat setempat. Kegiatan itu berlangsung cukup lama. Kegiatan sosial keagamaan yang dibangun sejak lama itu, kemudian menumbuhkan hubungan yang sangat bagus antara Ponpes Al Qodir dengan masyarakat dan bertahan sampai sekarang ini.

Meski memposisikan diri sebagai Pondok Pesantren Salafiyah yang mengajarkan kitab-kitab klasik atau kitab kuning kepada para santrinya, Ponpes Al Qodir juga merasa ikut bertanggung jawab terhadap pembangunan karakter dan moral masyarakat. Tidak heran jika santri yang datang ke Al Qodir, juga banyak dari kalangan pecandu narkoba yang ingin sembuh. Atau, orang yang mengalami gangguan jiwa untuk mengikuti terapi secara religi.

Alamat

Tanjung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta

 

Label: