Sosialisasi 4 Pilar, Gus Hilmy: Budaya Gotong Royong Terbukti Mampu Hadapi Pandemi

Pancasila mengajarkan kita untuk saling menolong. Utamanya pada masa pandemi ini, ajaran Pancasila terbukti mampu mendorong kita untuk tetap bertahan walaupun kondisi sangat memprihatinkan. Hal ini karena kita memiliki budaya gotong royong yang kuat.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh  Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Aula Asrama Putri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dengan tema Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Santri pada Selasa (07/02) siang.

“Terutama dalam kondisi pandemi ini, sangat dibutuhkan. Kita bisa melihat dengan jelas di tengah masyarakat saling menolong, gotong royong. Salah satu sebab mengapa bangsa kita bertahan, ya karena sikap saling tolong menolong, gotong royong,” kata anggota MPR RI tersebut.

Pria yang akrab disapa Gus Hilmy ini juga mengapresiasi kerja para pembimbing di Pesantren Krapyak yang telah bekerja sama untuk memutuskan penyebaran virus Corona di lingkungan pesantren Krapyak Yogyakarta.

“Sementara di Pesantren ini, berkat kerja sama semua pihak, kita dapat menekan penyebaran Covid-19. Tanpa kerja sama ini, pasti akan sangat berat. Para pembimbing ini perannya sangat strategis. Sebagaimana Nabi Muhammad dibantu oleh para sahabat dalam menjalankan tugasnya sebagai Nabi dan Rasul. Pembimbing sebagai representasi pengasuh harus bisa bersikap sebagai pengasuh,” kata salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut.

 

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Yayasan Ali Maksum dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta K. H. Afif Muhammad, M.A. dan Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ny. Hj. Maya Fitria, M.A.

Kiai Afif menyatakan bahwa Pancasila merupakan warisan para kiai yang harus dilanjutkan perjuangannya. Menurutnya, tidak ada pertentangan sama sekali antara agama Islam dengan Pancasila.

“Memang secara jelas Qur’an tidak menyebut Pancasila, tetapi dalam Maqosid Syariah, rumusan-rumusannya sudah jelas. Maqosid itu khifdud dhin, khifdun nafs, khifdul aql, khifdun nasl, khifdul mal. Jadi masing-masing pasalnya sudah ada dalilnya. Di sini kita menemukan konteks agama membutuhkan bangsa, sebab tidak ada negara agama. Dan setiap yang sudah kita lakukan di pesantren ini, tidak terlepas dari Pancasila,” ujar Kiai Afif.

Hal ini diamini oleh Ny. Hj. Maya bahwa pesantren juga menjadi titik pijak perjuangan nasional. Para Bapak Bangsa sebagian berasal dari kalangan pesantren. Oleh sebab itu, menurutnya, santri harus mampu mengkontekstualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam maupun di luar pesantren.

“Kontekstualisasi Pancasila diharapkan menjadi kekuatan yang selalu diperbarui karena kita hidup yang selalu berubah. Harapannya, hal ini dapat menjadi kebangkitan baru bagi Indonesia di masa depan. Perubahan penafsiran harus selalu dilakukan,” kata dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

 

 

Label: